FokusKatusba KatusbaNews

Curhat PKL Sumedang: Jual Rujak Malam-malam, Siapa yang Mau Beli?

Bagikan:
Taman Endog, Sumedang/katusba.com

KatusbaNews | Larangan untuk berjualan di sekitar Taman Endog Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, bikin bingung pedagang kaki lima (PKL). Masalahnya, para pedagang ini tidak mendapatkan relokasi untuk berjualan.

Setiap harinya, Satpol PP membubarkan paksa PKL yang sedang berjualan di sekitar Taman telor. Alhasil, mereka jadi buka lapak dagang di mana saja, seperti di depan toko-toko yang berada di jalan utama atau di sekitar lampu merah Taman Endog.

“Saya inginnya pemerintah memperhatikan PKL yang ada di sini. Kami sih tidak apa-apa harus pindah. Asalkan ada relokasinya, bukan hanya tiba-tiba datang dan melarang berjualan” kata salah satu PKL, Sobari, Jumat (15/11/2019).

Sobari menjelaskan bahwa dirinya sudah berjualan selama 20 tahun di Taman Endog, dan telah mengalami beberapa kebijakan pemerintah.

Dia menilai kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang saat ini tidak jelas, dan tidak memihak pada rakyat kecil seperti PKL.

Persoalan lain yang membingungkan mereka adalah tidak adanya ketegasan dari pemerintah soal penerapan peraturan berjualan, atau peletakan atribut larangan berjualan di sekitar Taman Endog.

“Saya ini masih bingung. Di sini tak ada plang larangan berjualan, tapi saya disuruh pindah oleh satpol PP. Sedangkan di beberapa tempat yang tidak boleh berjualan, misalnya Rumah Sakit atau depan Asia Plaza yang jelas ada plang larangannya, malah banyak yang jualan,” sambung Didin, yang juga merupakan PKL di Taman Endog.

Ketidakjelasan lainnya adalah banyaknya PKL yang berjualan pada sore atau malam hari, dengan dalih telah memeroleh izin dari pemerintah.

 “Kami sudah menyampaikan hal ini pada Satpol PP. Tapi, kami disarankan untuk pindah waktu berjualan jadi sore atau malam hari,” kata Sobari.

Lagi-lagi, dia merasa bingung, karena makanan yang dia jajakan tidak cocok dikonsumsi pada malam hari.

“Ya bayangin saja, masa malam-malam harus jualan es cendol atau rujak, siapa yang mau beli?” keluhnya. may  

Editor: Reza Hamdani Rohmawan