FokusKatusba KatusbaSports

Jatuh Bangun Dunia Paralayang Sumedang: Dari Titik Nol Hingga Gelar Kejuaraan Internasional

Bagikan:
Komunitas SANG Aero Activities saat melakukan eksibisi dan latihan rutin di Toga, beberapa waktu lalu (dok. istimewa / Katusba.com)

KatusbaSports | Acara West Java Paragliding World Championship 2019 masih berlangsung hingga Senin (28/10/2019). Kompetisi dengan kelas internasional ini menjadi salah satu event terbesar di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sepanjang tahun 2019.

Meskipun begitu, siapa sangka kalau kejuaraan paralayang Internasional bisa kembali diadakan di Sumedang, salah satu kabupaten dan kota kecil di Jawa Barat bisa menggelar kompetisi yang begitu besar.

Hal itu tentu merupakan buah dari dedikasi dan usaha orang-orang yang berada di belakang layar Dunia Paralayang Sumedang. Apalagi Paralayang sendiri bukanlah olahraga yang populer baik di Indonesia maupun di Kabupaten Sumedang

Salah satunya adalah tokoh Paralayang Nasional asal Sumedang, Aries Pribaya. Aries mengungkapkan kalau menjaga api kehidupan Paralayang di Sumedang bukanlah hal yang mudah. Ia mengakui kalau dirinya juga bukan orang pertama yang menggeluti bidang paralayang di Sumedang melainkan Samsudin.

“Saya mulai masuk di dunia paralayang semenjak tahun 2002 bersama dengan Pak Samsudin. Pak Samsudin kemudian fokus dengan bisnisnya, sedangkan saya terus menggeluti profesi sebagai atlet sampai Pelatda,” kenang Aries saat diwawancarai secara eksklusif oleh Katusba pada Kamis sore (25/20/2019).

Lalu, Aries pun menuturkan, setelah Pa Samsudin fokus mengembangkan bisnisnya, hanya ia seorang yang terus menggeluti dunia paralayang seorang diri di Kabupaten Sumedang dari tahun 2002 sampai 2008 baik sebagai pengembang maupun atlet.

Bahkan, sempat tersiar rumor-rumor negatif bagaimana paralayang hanya untuk Aries saja dan tidak ada orang yang akan meminati. Sendirian menanggung beban dan menjaga api semangat pada paralayang di Sumedang memang tidak mudah.

“Tahun 2009, dengan bersusah payah akhirnya muncul atlet paralayang selain saya di Kabupaten Sumedang untuk PORDA 2010. Hasilnya pun mengejutkan, kita menempati posisi ketiga meski baru masuk KONI Sumedang,” jelas Aries.

Lokasi penerbangan di Batudua, Sumedang. (Photo from .net/Katusba.com)

Barulah, setelah mampu membuktikan dengan prestasinya, Aries yang sudah tidak seorang diri mampu melebarkan sayap dunia paralayang di Sumedang. Pada tahun 2011, tempat penerbangan paralayang mulai dibuka di Batudua, Sumedang sekaligus menjadi tempat paralayang untuk PON 2012.

Melihat suksesnya paralayang di PON Jawa Barat 2012, kelompok komunitas paralayang dari Jakarta kemudian ingin menyelenggarakan kejuaraan berkelas internasional di Batudua, Sumedang, pada tahun 2013.

Hasilnya pun sangat positif. Kejuaraan pra-PWC 2013 tersebut mampu menyedot perhatian dunia paralayang Internasional. Hal ini dikarenakan medannya yang sangat menantang bahkan bagi penerbang cross-country profesional saat itu.

Kejuaraan pra-PWC 2013 juga tidak terlepas dari peran Sekretaris Daerah Sumedang, Herman Suryatman, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Sumedang (Disbudparpora).

“Namun, itu tidak berlangsung lama. Ketika mantan Bupati Sumedang, Hj. Endang meninggal, lalu Herman pun pindah ke Jakarta, maka dunia paralayang Sumedang pun bisa dikatakan mati suri pada tahun 2014 dan 2017. Pengganti Herman saat itu saya nilai tidak piawai,” ujar Aries.

Salah satu peserta West Java Paragliding World Championship 2019 saat landing di lokasi pendaratan, Toga, Sumedang, (23/10/2019). (Dok. Istimewa / Katusba.com)

Aries yang khawatir dengan nasib dunia paralayang di Sumedang kemudian memutar otak untuk kembali menghidupkannya. Maka, pada tahun 2018, Aries menggelar kejuaraan nasional cross-country paralayang dengan dana pribadi.

Hasilnya pun bisa dibilang berhasil. Maka, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menantang Aries untuk menggelar kejuaraan yang lebih besar dari sekedar tingkat nasional. Dengan bantuan Herman yang pulang kampung ke Sumedang sebagai Sekda, maka bersama-sama dengan seluruh pihak yang dilibatkan sukses gelar West Java Paragliding World Championship 2019.

“Kami pun akhirnya berhasil mempersatukan seluruh elemen di Sumedang untuk membuat acara yang dibuat seunik mungkin dengan melibatkan budayawan dan seniman juga selain orang-orang yang bergelut di bidang olahraga,” jelas Aries.

Untuk kedepannya, Aries berharap ajang paralayang berkelas dunia akan terus diadakan di Kabupaten Sumedang. Menurutnya, hal tersebut mampu menjadi pemantik potensi wisata Kabupaten Sumedang yang selama ini masih tersembunyi.

“Salah satu atlet paralayang dalam sehari bisa menghabiskan sampai 10 juta rupiah untuk berwisata dan kuliner di Sumedang. Jelas menjadi bukti kalau ada nilai ekonomi juga yang didapatkan dari acara ini terlepas dari pro dan kontra yang beredar di masyarakat,” tandasnya.