News / Gemah Ripah

Asal Mula Desa Morang di Madiun

Asal Mula Desa Morang di Madiun

Gemah Ripah - Legenda/ Desa yang terletak di bawah kaki Gunung Wilis  diapit oleh tiga desa, dari Utara dan Timur  berbatasan dengan Desa Tawang Rejo, di sebelah Barat dengan desa Cermo dan di sebelah Sebelah Selatan dengan Desa Batok. Selasa, 10-11-2020

 

Desa Morang masih termasuk wilayah Kabupaten Madiun yang berada di bagian timur. Sebuah pedesaan yang mempunyai wilayah perbukitan maka tak heran kalo Desa Morang pemandangannya sangat indah, sejuk dan asri.

 

Sejarah Desa.

Kabupaten Madiun pada jaman dahulu masih termasuk wilayah kekuasaan Karajaan Mataram yang di pimpin oleh Adipati Ronggo Jumeno.

 

Pada waktu itu Adipati Ronggo Jumeno mbalelo (melawan)/melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Mataram karena tidak sependapat bila kerajaan mataram bekerja sama dengan Belanda.

 

Karena mengalami kekalahan maka banyak prajuritnya/pasukannya Adipati Ronggo Jumeno yang melarikan diri kehutan diantaranya Ki Morang Gati & anak menantunya yang bernama ki Gombal Joyo.

 

Dalam pelariannya juga diikuti oleh prajurit yang lain seperti Ki Singorati dan Ki Wono Segoro yang dimakamkan di Desa Cermo.

 

Ki Morang Gati beserta rombongannya di dalam pengungsian membuka lahan untuk membangun permukiman serta lahan pertanian.

 

Seiring berjalannya waktu, peradaban tersebut semakin ramai dan akirnya Ki Morang Gati meninggal dan di makamkan di tempat tersebut.

 

Setelah kurang lebih 100 tahun meninggalnya Ki Morang Gati maka pada tahun 1800 peradaban tersebut membentuk sebuah desa yang diberi  nama Desa Morang dan dipilihlah Ki Joyo Tirto sebagai Lurah/Kepala Desa yang pertama kali di desa Morang.

 

Ki Lurah Joyo Tirto memimpin Desa Morang hingga usia tua renta. Karena usianya sudah tua renta maka disepakati untuk mengadakan pemilihan lagi dan terpilihlah Ki Lurah Tirto Drono untuk menjadi pemimpin Desa Morang yang ke-dua.

 

Dalam kepemimpinan Ki Lurah Tirto Drono Desa Morang semakin maju dan beliau memimpin sampai akhir hayatnya yaitu pada tahun 1946 kemudian dilanjutkan pemilihan lagi maka terpilihlah Ki Lurah Tojoyo Kaimun untuk menjadi Lurah yang ke-tiga dan beliau wafat pada tahun 1979.(*)

 

#tokoh adat : Sardju Bethu Cokrosoedarmo.

 

Reporter: Bambang shenet (bs).

Partner Ads Neo Katusba

Berita Terkait

Berita Populer

Tanggapan

Mengirim Komentar
Belum ada tanggapan untuk berita ini, berikan komentar anda dan jadilah yang pertama memberikan tanggapan!