KatusbaNews

49 TKA China Masuk RI, Kemnaker: Mereka Ilegal!

Bagikan:

KatusbaNews | Kedatangan 49 tenaga kerja asing (TKA) China di Bandara Haluoleo, Kendari, Minggu (15/3/2020), bikin heboh.

Di tengah mewabahnya virus Corona yang berasal dari Wuhan, China, kedatangan TKA itu sontak menyita perhatian publik.

Mereka diketahui bekerja di perusahaan pemurnian nikel, PT Virtue Dragon Nickel Industry (PT VDNI) di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Menurut Staf Khusus Kementerian Tenaga Kerja, Dita Indah Sari, ke-49 warga negara China yang ada di perusahaan itu tak punya izin kerja dari Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing Kemnaker alias ilegal.

“Mereka hanya mengantongi visa kunjungan. Keberadaan warga negara asing di lokasi kerja, tanpa visa kerja, jelas menyalahi aturan. Oleh karena itu malam ini mereka semua diperintahkan meninggalkan lokasi perusahaan,” tulis Dita di Twitter @Dita_Sari_.

Disebutkan Dita, mereka juga harus dikarantina dengan benar.

“Perusahaan yang mempekerjakan mereka akan disidik dengan ancaman pidana sesuai bunyi di UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 42 dan 43,” sebutnya.

Walau begitu, pemulangan mereka ke negara asalnya, China, merupakan wewenang imigrasi.

“Kemnaker akan berkoordinasi dengan imigrasi,” kata Staf Khusus Kemnaker itu.

Sebelumnya, Kapolda Sultra Brigjen Pol Merdisyam, mengatakan jika para TKA asal China itu baru tiba dari Jakarta untuk keperluan memperpanjang visa.

Eksternal Affairs Manager PT VDNI, Indrayanto, pun mengatakan bahwa mereka berkerja di PT VDNI. Dia memastikan, puluhan TKA itu baru tiba dari Jakarta setelah mengurus perpanjangan visa kerja.

Namun, kemudian Kapolda Sultra mengklarifikasi pernyataan sebelumnya.

“Kalau dalam pendalaman ditemukan jejak perjalanan mereka adalah dari China, dan bukan dari Jakarta. Itulah keadaan sebenarnya. Tidak ada maksud atau unsur kebohongan di sini, kami menyampaikan berdasarkan informasi awal (pihak Bandara). Kemudian tujuan kami adalah meredam keresahan masyarakat dengan beredarnya video tersebut,” ungkap Merdisyam di Kendari, Selasa (17/3/2020).

Saat ini, ke-49 TKI tersebut berada dalam pemantauan Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, untuk jangka waktu 14 hari. (*)