KatusbaNews

Eksistensi Radio di Era Disrupsi Teknologi

Bagikan:

 

Oleh ELSYA TRI AHADDINI 

*) Praktisi media

 

KatusbaNews| Opini| Menghadapi perkembangan teknologi digital yang dahsyat seperti sekarang, mau tak mau radio perlu bertransformasi. Merupakan fakta bahwa produk-produk informasi digital sangat deras mengalir. Semua berlomba dalam hal inovasi dan kecepatan penyampaian informasi.

Posisi radio bisa jadi kian terdesak ketika hampir semua media berkolaborasi dengan keunggulan kinerja digital. YouTube berusaha menyaingi televisi, media cetak beralih ke digital, dan tayangan musik ala radio diambil alih oleh Spotify.

Walaupun begitu, sebenarnya bukan berarti tak ada celah bagi radio untuk ikut terjun dalam kompetisi penyampaian informasi pada publik.

Orang memang sudah jarang mendengarkan radio di rumah. Namun, radio bisa jadi pilihan saat menempuh perjalanan jauh menggunakan kendaraan roda empat.

Kehadiran YouTube, Spotify, hingga TV internet, pun perlu disikapi dengan beragam cara, di antaranya adalah dengan cara menambahkan platform ke internet dan menginovasi konten.

 

Payung Hukum

Bagaimanapun, sejarah panjang radio membuatnya tetap dibutuhkan masyarakat. Stasiun radio masih jadi saluran penting, misalnya, untuk menyiarkan informasi gempa dan tsunami. Tanggal 13 Februari sebagai Hari Radio Sedunia juga belum dihapus oleh Unesco.

Selain terdapat UU Nomor 32 tahun 2002 Tentang Penyiaran, terdapat payung hukum lainnya, sehingga penggunaan radio tak bisa dikesampingkan. Ketentuan itu adalah UU No. 31 Tahun 2009 pasal 34 Tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan Permenkominfo 20/2006 pasal 1 – 5. Dalam panduan menghadapi gempa, oleh Kogami dan Unesco, disebutkan bahwa salah satu isi tas siaga bencana adalah radio kecil dan senter.

Faktanya, internet bisa jadi medium baru untuk menambah jangkauan pendengar radio yang tidak hanya fokus pada siaran udara (on air) tetapi juga konten digital. Internet bahkan ‘meminta’ radio untuk turut berkembang dalam membuat konten di berbagai media.

Internet bukanlah pesaing radio. Sebaliknya, membuka peluang untuk menambah bentuk lain seperti radio pengaliran (streaming), misalnya.

Selain itu, inovasi konten menjadi strategi untuk mempertahankan pendengar radio yang meliputi siaran udara (on air), dalam jaringan (online) dan pertunjukan tidak langsung (off air).

 

Imajinasi Pendengar

Konten yang disuguhkan pun harus mengikuti minat pendengar. Sebuah penelitian yang pernah digelar Universitas Indonesia memperlihatkan data bahwa acara musik masih digemari oleh 85,5% pendengar.

Uniknya, konten musik yang disajikan radio memiliki sisi yang berbeda karena bisa membangun imajinasi pendengar.

Radio menyuguhkan konten musik dengan konsep seperti teman yang menemani. Artinya, pendengar bisa memilih musik yang ingin didengarnya dan tidak sekadar memutar lagu.

Konten tidak terlalu berat, tidak kelebihan durasi, dan dekat dengan pendengar. Konsep ini yang membuat orang susah lupa dan jadi jatuh cinta sama radio.

Popularitas radio memang menurun, namun masih bisa bertahan. Nah, agar kiprah radio benar-benar ‘tampak’ pada era disrupsi teknologi ini, maka pengelola media komunikasi dengar ini perlu mengerahkan segenap kreativitas dan inovasinya untuk memikat pendengar milenial, seperti melakukan siaran di sekolah, di kampus, melibatkan mereka dalam siaran, atau menghadirkan tokoh populer. (*)