KatusbaNews

Hasil Survei Parameter: FPI dan 212 Bukan Ancaman Demokrasi

Bagikan di:
Ilustrasi

KatusbaNews | Lembaga survei Parameter melaksanakan survei ihwal Islam politik pasca-Pemilu 2019.

Hasilnya memperlihatkan bahwa 50,3% responden tak setuju jika gerakan Islam seperti FPI dan 212 dianggap ancaman demokrasi.

Survei tersebut digelar dalam kurun waktu 5-12 Oktober 2019, dengan melibatkan 1.000 orang responden, menggunakan metode stratified multistage random sampling.

Margin of error survei sebesar 3,1 persen, dengan tingkat kepercayaan menyentuh angka 95%.

Sedangkan pengumpulan data dengan cara wawancara langsung.

Pertanyaan yang disampaikan pada responden adalah: Jika ada yang mengatakan bahwa kelompok Islam kanan seperti Gerakan 212, FPI, GNPF MUI, telah menjadi ancaman bagi demokrasi di Indonesia, apakah Bapak dan Ibu setuju dengan pendapat itu?

Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno memaparkan bahwa responden yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok Islam kanan seperti GNPF dan lain-lain itu jadi ancaman bagi stabilitas demokrasi, persentasenya adalah 19,6%.

Sedangkan yang menyatakan tidak setuju jauh lebih banyak, yakni 50,3%. Sedangkan sisanya, yang tidak menjawab, sekitar 30%.

Sedangkan tanggapan soal aksi massa, seperti Aksi 212, Mujahid 212, dan Reuni 212, antara responden yang pro dan kontra hanya selidih tipis.

“Responden yang mendukung reuni, demonstrasi, munajat, dan seterusnya, itu 32,5%. Sementara yang tidak mendukung itu 33,6%. Ini terbelah tipis,” ujar Adi.

Persepsi bahwa gerakan Islam kanan tidak mengancam iklim demokrasi terdapat di hampir semua lapisan demografi dan pemilih partai politik.

Tetapi, ketika hal itu sudah menjadi gerakan aksi massa, responden lebih banyak tidak mendukung.

Responden juga menjawab pertanyaan soal pilihan Pilpres 2019 lalu. Hasilnya, 62% responden yang mendukung demonstrasi dan aksi massa gerakan Islam kanan adalah pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Adi, uniknya, pendukung gerakan aksi Islam ini mengalir dari masyarakat kota, berusia muda, berpendidikan tinggi, pengguna medsos, beragama Islam, juga mengaku mendukung Prabowo dan Sandi.

“Jadi, ini in line bahwa seakan-akan bekas pilpres itu belum sepenuhnya usai,” ucap Adi. (*)

Editor : Suci Irawati

Dina Rizqiana
Dina Rizqiana
Senang menulis dan jalan-jalan.

Tinggalkan Komentar