KatusbaNews

Investasi Bodong Berlabel Syariah Terkuak, Investor Pro 212 Marah Besar

Bagikan:
Brosur dari investasi Kampoeng Kurma yang diduga bodong dan menipu ratusan investor dan dilaporkan ke pihak kepolisian. (Image from .net / Katusba.com)

KatusbaNews | Investasi memang masih menjadi lahan bisnis yang penuh resiko. Apabila tidak hati-hati, maka akan menimpa kebanyakan orang pro gerakan 212 yang termakan janji manis Kampoeng kurma.

Investasi Bodong Kampoeng Kurma ini juga bukan hanya melancarkan aksi tipunya di Tanjungsari, Cianjur saja. Berdasarkan penelitian dari Katusba, Investasi ini juga dilancarkan di Jasinga, Bogor, Cipanas, Banten, dan Cirebon.

Sontak aksi tipu para pemerdaya pro 212 ini membuatnya mampu melebarkan sayap investasi bodong tersebut sampai ratusan investor sesuai pengakuan dari salah satu korban, Irvan Nasrun.

Irvan mengatakan kalau orang-orang yang ditudingnya sebagai penipu tersebut menggunakan label dan embel-embel syariah dalam menjajakan produk investasinya. Hal itu pun membuat banyak orang-orang pro 212 tertarik untuk bergabung dengan investasi bodong Kampoeng Kurma.

“Mereka menawarkan investasinya dengan embel-embel syariah begitu, jadi kami (pro 212) tertarik untuk ikut berinvestasi. PT. Kampoeng Kurma itu juga mengklaim digandeng ulama terkenal,” ujar Irvan pada Senin (11/11/2019).

Gerakan investasi bodong yang sudah gencar dibewarakan sejak 2018 lalu. (Image from .net / Katusba.com)

Irvan juga menyatakan kalau ia bersama dengan investor lain marah besar. Berdasarkan keterangannya, ada ratusan orang yang termakan janji manis PT. Kampoeng Kurma dan berniat mempolisikan orang-orang di balik investasi tersebut.

“Mereka dapat banyak investor karena ajimumpung dalam momen 212 dan 411. Mereka memanfaatkan semangat orang-orang yang pro gerakan tersebut,” keluh Irvan yang sudah berinvestasi sebanyak Rp 417 juta kepada PT. Kampoeng Kurma untuk membeli 2 kavling.

Irvan merasa sudah curiga saat Akta Jual Beli (AJB) kavling tanah tersebut tidak juga diberikan kepadanya. Setelah ia telusuri, ternyata AJB tidak bisa diambil karena ternyata tidak ada dana, sementara dana yang ia berikan beberapa waktu lalu raib entah ke mana.

“Ini akan menjadi urusan saya dan lawyer saya. Semua urusan hukum sedang menjalani proses,” tegas Irvan.

Sementara itu, pihak kepolisian sendiri menyatakan sudah memasukkan PT. Kampoeng Kurma dalam daftar investasi berbahaya sejak April 2019 lalu. Hal itu dikonfirmasi oleh Kepala Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing.

“Kami sudah melaporkan perusahaan yang termasuk dalam 73 perusahaan investasi berbahaya tersebut ke Bareskrim Polri. Kami himbau masyarakat untuk berhati-hati,” ujar Tobing.

Lalu, Tobing juga memberikan usulan agar semua pihak yang merasa dirugikan segera melapor kepada pihak kepolisian agar bisa diproses dengan lebih cepat.

Perusahaan investasi bodong Kampoeng Kurma ini sendiri setidaknya diklaim sudah menjual sekitar 4000 kavling hingga saat ini.

Editor: Reza Hamdani Rohmawan