KatusbaNews

Komunikasikan Persoalan dengan Saudi, Dubes RI Minta Rizieq Cabut Sumpahnya

Bagikan:
Muhammad Rizieq Shihab (MRS)

KatusbaNews | Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel memastikan, hingga saat ini Muhammad Rizieq Shihab (MRS) tak pernah menyampaikan laporan resmi terkait persoalan yang dihadapinya.

Walau begitu, jika pemimpin Front Pembela Islam (FPI) itu berniat kembali ke Tanah Air, sebagai diplomat, Agus bersedia membantunya, asalkan Rizieq mau bersikap kooperatif dengan perwakilan RI di Arab Saudi.

Bagaimanapun, Rizieq harus menyampaikan laporan ihwal kendala yang dia hadapi.

Agus mengakui, dirinya pernah berkomunikasi melalui telepon. Di antaranya ketika dia berada di Qatar dua tahun lalu. Namun, percakapan itu sekadar basa basi, soal ajakan ngopi bareng, dan dilakukan dengan perantara orang lain.

Agus juga membantah pernyataan Rizieq yang disiarkan saat Reuni 212 di Monas, Senin (2/12/2019). Rizieq menyebut Agus mengutus staf KBRI dari BIN. Sebaliknya, Agus menegaskan, tak pernah memberi perintah maupun advice pada stafnya untuk datang menemui Rizieq.

Agus menyarankan agar Rizieq mencabut pernyataannya yang menyebutkan Jokowi sebagai presiden ilegal.

Faktanya, Raja Salman maupun putra mahkota Muhammad bin Salman (MBS) menjalin pertemanan cukup dekat, dan sangat menghormati Presiden Jokowi.

“Pernyataan semacam itu kan sangat sensitif di Arab Saudi. Kalau ada warga negara yang tidak mengakui kepala negaranya, ini muskillah. Sudahlah… cabut itu. Ini kan urusan dignity, soal NKRI,” saran Agus.

Saran berikutnya, Agus minta Rizieq mencabut sumpahnya tidak akan minta tolong pada pemerintah dengan alasan pemerintah merupakan rezim zalim.

“Kitab-kitab yang jadi background, backdrop, ketika dia ceramah, pastilah ada satu bab tentang kitab sumpah dan nazar, dan bagaimana cara menggagalkan sumpah, itu ada. Dicari sajalah,” papar dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga itu.

Sebaiknya, lanjut Agus, laporan Rizieq juga dilengkapi dokumen dan data formal, agar pihaknya dapat berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.

“Bila tidak, ya nanti ditertawakan sama Kemenlu Arab Saudi,” sebutnya.

Agus mengaku terus menjalin komunikasi secara formal dengan pihak otoritas Arab Saudi, untuk menelaah pokok persoalan yang menimpa Rizieq.

Dikatakan Agus, selama 4 tahun dirinya bertugas, baru pertama kali menemui persoalan seperti ini. “Kalau yang mencekal ini lembaga superbody, berarti ada masalah superserius, permasalahan hukum,” katanya.

Selama Rizieq masih memegang paspor RI, KBRI akan terus melakukan pendampingan dan memberikan hak-hak kekonsuleran.

Menurutnya, WNI yang mengalami overstay, tak serta merta dideportasi ke negara asal.

“Pendeportasian semacam itu hanya dilakukan jika terjadi razia massal di jalanan,” pungkasnya. (*)

Editor : Suci Irawati