KatusbaNews

Picu Kerugian Rp10 Miliar, Ini Aturan Main Arisan ‘Sosialita Manja’

Bagikan:

KatusbaNews | Puluhan warga Makassar tertipu arisan online senilai Rp10 M. Ini bukan arisan biasa, melainkan mirip peminjaman online, dan semua peserta arisan jadi investor.

“Arisan ini mirip pinjaman online. Peserta urunan menyediakan pinjaman yang dijanjikan tersangka dengan bunga besar,” kata kuasa hukum para korban, Muhammad Aljebra, Senin (9/12/2019).

Dikatakan Aljebra, sistem arisan ini bernama ‘Arisan Sosialita Manja’. Promosinya dilakukan melalui via media sosial, seperti Facebook dan grup Whatsapp.

Ivana Lie, seorang korban, mengaku telah menyampaikan modal hingga Rp800 juta di arisan sosialita. Menurutnya, ada 4 permainan yang ditawarkan, yakni permainan flat, double, tembak, dan menurun.

“Untuk jenis flat misalnya, admin akan mengumumkan di grup, terdapat pengajuan pinjaman, dan membuka 10 penyandang dana. Urutan 1 hingga 10 berdasarkan waktu pengembalian dengan bunga hingga 15%,” paparnya.

Misalnya, sambung dia, admin akan mencari penyandang dana untuk pinjaman Rp500 juta dengan besaran bunga variatif, tergantung lamanya pinjaman.

“Bunga 15%, dan itu berkisar hingga 20 hari. Selain itu, ada bunga  12% dan 10% untuk tenggat waktu tertentu,” ucapnya.

Sejak bergabung pada Juli 2019, Ivana mengaku belum ada sepeser pun uang yang disetor tersangka.

Sedangkan korban lainnya, Emil, mengatakan menderita kerugian hingga Rp500 juta. Para tersangka bahkan mematok biaya administrasi sebesar Rp2,5 juta untuk modal awal yang disetorkan.

“Misalkan begini, saya setor bunga pokok Rp 10 juta. Nanti keuntungannya itu ada sekitar 15 juta, dan dipotong Rp2,5 juta untuk admin,” terangnya.

Bergabung sejak 2018, Emil mengaku sempat mendapatkan setoran dari tersangka. Namun, modal itu diputar kembali sebagai dana pokok untuk arisan lagi.

“Walau pernah dapat pengembalian, sebetulnya saya belum dapat untung, soalnya saya masukkan lagi untuk dana pokok,” sebutnya.

Terduga pelaku penipuan arisan online di Makassar, Sulawesi Selatan, Wenny dan Kelvina, telah mendatangkan kerugian pada korban, sebesar total Rp 10 miliar.

Berdasarkan pengakuan pada polisi, tersangka menggunakan uang itu untuk gaya hidup.

“Yang pasti nya(buat) makan, lalu belanja baju dan lain-lain,” terang Dirkrimsus Polda Sulsel Kombes Augustinus B Pangaribuan.

Menurut Augustinus, untuk mendalami aliran uang itu, polisi akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

“Untuk ebih validnya, kita akan berkoordinasi ke PPATK,” ucapnya. (*)

Editor : Suci Irawati