KatusbaTravels

Wisata Pemikat Asmara Ala Marongge Sumedang

Bagikan di:

Katusba.com | Wisata Pemikat Asmara.
Sungai Cilutung, Marongge, Sumedang. net/katusba.com

KatusbaTravels | Sejak lama, wisata pemikat asmara atau wisata ziarah Marongge yang berlokasi di Desa Marongge, Kecamatan Tomo, Sumedang, populer dengan kedahsyatan peletnya. Konon, pelet Marongge sangat manjur dan orang yang terkena bisa cepat klepek-klepek.

Terlepas dari benar tidaknya ihwal keampuhan pemikat ala Marongge, namun yang jelas selalu ada pengunjung Marongge yang tertarik untuk mendapatkan pelet tersebut.  

Sebenarnya, cara mendapatkan pelet atau pemikat asmara tersebut tidaklah mudah. Peminat wajib merendam tubuhnya di Sungai Cilutung pada tengah malam yang dingin.

Sungai tersebut berjarak sekitar 400 meter dari lokasi makam keramat, demikian disampaikan Kuncen Marongge H. Maman

“Ritual itu tak lebih dari tawasulan, yang nantinya dibimbing kuncen Marongge,” katanya.

Di ujung ritual, mereka diwajibkan melepaskan pakaian dalam masing-masing, lalu menghanyutkannya di sungai itu, yang merupakan simbol buang sial.

“Setelah melalui semua tahapan ritual, peserta bagai memasuki kehidupan baru. Mereka yang ingin cepat dapat jodoh meyakini, bahwa kecantikan atau kegantengan mereka telah bertambah. Percaya atau tidak, memang seperti itulah yang terjadi,” katanya.

Maman mengatakan, kekuatan pemikat ini bersumber dari ajian si kukuk mudik. Ajian itu adalah peninggalan Mbah Gabug, perempuan cantik asli asal Mataram.

Selain terdapat makam Mbah Gabug, di Marongge juga ada makam Mbah Setayu, Mbah Naibah dan Mbah Naidah. Pada masanya, keempat dara itu dikenal sangat cantik. Walau begitu, mereka suka melajang.

Mereka tergolong perempuan sakti. Faktanya, tak ada satu pria pun yang bisa mengimbangi kesaktian tersebut, sehingga keempatnya berstatus lajang hingga wafat. Kesaktian empat wanita ini berasal dari selendang sakti Cindewulung.

Menurut cerita, Mbah Gabug pernah menghanyutkan buah kukuk ke sungai, yang merupakan prosesi sayembara bagi kaum adam yang berniat menikahi Mbah Gabug.

Tetapi, tak satu priapun yang sukses mendapatkan kukuk itu. Bahkan, Mbah Gabug berhasil “memanggil” pulang buah jenis labu itu ke rumah, dengan cara melawan arus sungai. Dari peristiwa itulah muncul istilah si kukuk mudik.

Lokasi tujuan wisata ziarah ini terletak di jalan raya Tolengas- Cijeungjing, yang berbatasan dengan Kecamatan Kadipaten, Majalengka, juga cukup dekat dengan Bendungan Jatigede.  pbn

Acep Komarudin Hidayat
Acep Komarudin Hidayat
Tinggal di Jawa Barat, selalu tertarik pada dunia menulis dan literasi. "Allah's plan is bigger than your mistakes" [email protected]

Tinggalkan Komentar